RATA-RATA NILAI RAPORT 8, PARA SISWA BOLEH BERAMBUT GONDRONG

Cetak

Seperti biasa saya menyempatkan diri untuk menonton Opera Van Java di Trans7 karena kelucuan para wayangnya cukup menghilangkan penat dikepala setelah seharian bekerja dikantor dan menjadi seorang penglaju. Pada kamis tanggal 5 Mei 2011 kemarin, ada yang unik dari tayangan OVJ ini. Bukan karena jalan ceritanya atau bintang tamu yang di undang tetapi saya lebih tertarik pada penonton yang memakai seragam SMU namun berambut gondrong.

Sebelum cerita dimulai, dalang Parto menyapa para penonton yang hadir di studio. Saat itu dia memperkenalkan bahwa para penonton yang berambut gondrong tersebut merupakan anak-anak SMU yang memang diperbolehkan memiliki rambut gondrong dengan syarat rata-rata nilai raportnya adalah 8 (delapan). Maka dalang Parto pun bilang bahwa anak-anak yang berambut gondrong itu sebenarnya justru anak-anak pintar di sekolahnya. Saya pun jadi terkesima, ternyata sekolah ini cukup “berani” membuat suatu peraturan yang berbeda dari sekolah lainnya karena biasanya para siswa dilarang untuk memiliki rambut panjang atau biasa disebut gondrong.

Selama ini, image rambut gondrong selalu identik dengan para seniman atau mereka yang bergerak di bidang seni seperti penyanyi rock, pelukis dll. Sedangkan para siswa/anak usia sekolah yang berambut gondrong identik dengan anak nakal, berandalan, suka tawuran dan tukang palak. Seringkali mereka mendapat hukuman karena dianggap melanggar peraturan sekolah yang memang tidak mengijinkan siswanya berambut gondrong.

Namanya juga anak remaja yang katanya sedang mencari jati diri, biasanya mereka memiliki jiwa pemberontak dimana adakalanya semakin dilarang oleh orangtua atau gurunya, mereka semakin tertantang untuk melanggarnya. Meski sudah diberi hukuman dari yang ringan hingga berat, mereka tidak pernah berhenti untuk melakukan pelanggaran. Semakin orang dewasa (orangtua dan guru) menjadi kesal, mereka semakin senang karena berhasil membuat orang dewasa marah dan memberikan hukuman.

Tampaknya hukuman sudah tidak mempan lagi untuk diterapkan pada anak-anak jaman sekarang sehingga pola pikir orang dewasa harus dirubah dalam melakukan pendidikan untuk anak-anak. Jika demikian, mungkin dengan memberikan reward atau imbalan yang sesuai namun dengan syarat tertentu bisa membuat anak-anak mau menaati peraturan. Pola pikir inilah yang menurut saya mendasari mengapa sekolah tersebut mengijinkan para siswanya berambut gondrong. Paham akan keinginan anak didiknya yang senang memiliki rambut panjang (mungkin terinspirasi dari film-film korea yang rata-rata aktornya berambut panjang), maka pihak sekolah pun mengijinkan mereka memiliki rambut panjang namun dengan syarat yang harus mereka penuhi terlebih dahulu yaitu rata-rata nilai raportnya adalah 8.

Dengan adanya kesepakatan yang dianggap saling menguntungkan dan telah di setujui antara para siswa dan pihak sekolah ternyata dapat mendorong prestasi para siswa tersebut. Para siswa yang memang mengidam-idamkan memiliki rambut panjang senantiasa berusaha agar nilai-nilainya diatas atau sama dengan 8 sehingga mereka akan mengantongi ijin dari pihak sekolah untuk berambut gondrong. Ketika rambut gondrong menjadi tren disekolah itu, dapat dipastikan akan muncul image “semakin gondrong berarti semakin pintar” maka akan mendorong siswa yang prestasi akademiknya dibawah rata-rata menjadi terpacu untuk lebih giat belajar lagi. Namun demikian, (menurut saya) para siswa yang tidak berambut panjang bukan berarti tidak pintar (nilai raportnya dibawah 8) karena selera tiap orang berbeda (memang tidak suka memiliki rambut panjang) atau juga karena orangtuanya melarang anaknya berambut gondrong karena takut masyarakat atau keluarga besarnya akan memberikan label buruk kepada anaknya jika berambut gondrong

Jika kualitas atau prestasi akademik para siswa tersebut diatas kualitas sekolah lainnya maka pada akhirnya yang memperoleh “nama harum” adalah sekolah itu juga sehingga sekolah tersebut akan banyak didatangi para orangtua untuk menyekolahkan anaknya disana. Seperti kita tahu bahwa orangtua cenderung akan menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah berkualitas atau unggulan (atau yang sekarang sedang tren adalah sekolah yang berstandar Internasional). Selain demi gengsi karena anaknya masuk sekolah unggulan, namun ada juga orangtua yang menginginkan anaknya mengenyam pendidikan berkualitas untuk menyiapkan mereka ketika memasuki pasar kerja. Latar belakang pendidikan masih menjadi nilai plus suatu perusahaan bonafit ketika melakukan recruitment pegawai karena sekolah atau Perguruan Tinggi berkualitas dianggap siap mencetak tenaga kerja yang berkualitas juga.

Namun demikian, ada hal-hal yang menjadi pertanyaan di benak saya yaitu :

Bagaimana mekanisme pihak sekolah dalam mengawasi prestasi akademik para siswanya?

Seperti kita ketahui, jika yang menjadi standar adalah angka-angka yang tertuang dalam raport maka ada kemungkinan terjadi kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh para siswa agar tujuannya tercapai seperti mencontek pada saat ujian. Ketika sebuah tren dan image sudah sangat mendominasi di sebuah komunitas maka akan ada kecenderungan terjadi perilaku menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Hal inilah yang harus senantiasa diperhatikan pihak sekolah.

Jika ada reward untuk para siswa, apa yang menjadi reward untuk para siswi berprestasi?

Saya jadi teringat pada masa saya SMU. Dulu disekolah saya, larangan untuk para siswi adalah tidak menggunakan rok diatas lutut dan para siswi wajib menggunakan kaos dalam. Saat itu, para siswi kelas 3 yang mendapat teguran karena roknya sangat pendek dan mini akan memberikan alasan tanggung membeli seragam baru karena sebentar lagi akan lulus. Sedangkan mereka yang tidak menggunakan kaos dalam, mungkin karena memang tidak dibiasakan dari kecil menggunakan kaos dalam sehingga tidak punya kaos dalam, sering gerah atau berkeringat jika menggunakan kaos dalam atau karena memang ingin memamerkan motif-motif bra yang dipakainya. Saat itu memang sedang tren bra dengan motif-motif lucu dan berwarna-warni sehingga jika mereka memaki kaos dalam maka bra tersebut tidak akan terlihat oleh orang lain, sayang kan sudah beli tapi tidak bisa dipamerkan pada orang lain :p

Dari hal tersebutlah saya jadi berfikir, reward atau keringanan peraturan apakah yang diperoleh bagi para siswi yang nilai raportnya diatas 8? Apakah boleh menggunakan rok mini, tidak menggunakan kaos dalam, boleh menggunakan aksesoris atau perhiasan dll karena sangat tidak adil jika para siswa mendapatkan reward tetapi para siswinya tidak.

Bagaimana jika ada event lomba antar sekolah?

Event-event lomba antar sekolah baik itu di bidang akademis maupun olahraga pasti akan ada. Saya jadi membayangkan ekspresi peserta lomba dari sekolah lain ketika berhadapan dengan peserta dari sekolah ini, misalnya pada saat lomba debat bahasa inggris atau cerdas cermat. Apakah pada saat mewakili sekolahnya pada event lomba tersebut, mereka tetap dengan style sehari-hari mereka disekolah atau untuk sementara harus memangkas rambutnya agar terlihat lebih rapi? Yang menjadi pertimbangan adalah tidak semua orang bisa menerima atau tidak berfikir negatif terhadap orang berambut gondrong. Misalnya lagi ketika diundang acara formal seperti menerima hadiah dari pejabat yang mungkin masih memiliki pola pikir konservatif, apakah siswa tersebut tetap akan menghadap dengan rambut gondrongnya atau memangkas dulu rambutnya karena bisa saja dianggap tidak sopan dan bahkan sekolah akan dianggap gagal mendidik siswanya hanya karena rambut gondrong tanpa melihat atau mempertimbangkan prestasi yang telah dilakukan siswa tersebut.

Diakhir tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa setiap peraturan pasti akan menimbulkan pro-kontra, ada dampak positif dan negatifnya tergantung bagaimana kita menyikapinya namun berusahalah untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Yang jelas saya cukup salut pada aturan yang diterapkan sekolah ini, semoga sistem pendidikan di negara kita akan semakin baik dan dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya berprestasi dalam hal akademis namun juga memiliki moral dan berilaku yang baik J

Komentar

Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar