VIP VS BIASA (bagian 1)

Cetak

Terkait dengan tulisan saya sebelumnya tentang masalah nasi box khusus para bos, saya jadi teringat setiap kami mengadakan acara atau kegiatan baik yang diadakan digedung kantor ataupun dihotel maka kami akan menyiapkan “ruang VIP” bagi para bos ketika coffee break ataupun makan siang. Tujuannya adalah supaya mereka tidak perlu antri ketika akan mengambil hidangan yang disediakan. Selain itu, didalam ruang VIP tersebut disediakan meja dan kursi untuk makan sehingga mereka lebih nyaman ketika sedang menyantap makanan sambil mengobrol dengan para bos lainnya.

Hal ini berbeda dengan situasi diluar ruang VIP. Para peserta (yang pada umumnya adalah staf) harus mengantri untuk mengambil hidangan yang telah disediakan. Adakalanya peserta tidak kebagian makanan karena terlambat mengantri ataupun petugas catering tidak cepat menuang makanan ketempat yang sudah kosong. Selain itu, mereka tidak disiapkan meja dan kursi untuk makan, kalaupun ada namun jumlahnya sangat sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah peserta sehingga mereka harus makan dimeja kelas.

Selain acara resmi dikantor, sebenarnya secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari memberikan “penghormatan kepada orang penting” dengan menyiapkan fasilitas yang berbeda dengan “orang biasa”. Kira-kira salah satu contoh gambarannya adalah seperti pada saat kita hadir di pesta pernikahan. Biasanya orang yang melaksanakan pesta pernikahan akan menyiapkan tempat khusus untuk tamu undangan khusus pula...entah untuk atasannya dikantor, pejabat atau orang terpandang di lingkungannya misalnya saja lurah atau camat dan lain-lain. Tempat khusus tersebut seperti ruang VIP yang sudah saya jelaskan diatas. Untuk masalah salaman dengan pengantin pun, mereka disiapkan “jalur khusus” sehingga tidak perlu mengantri seperti tamu lain pada umumnya dan tamu biasa yang sudah mengantri duluan pun diberhentikan sementara untuk memberi jalan bagi tamu khusus tersebut.

 

Sedangkan tamu undangan biasa, harus mengantri makanan yang disediakan dan kadang harus berdesakan hehehehe tapi “orang kita” banyak akal, ada juga (terutama yang membawa anak kecil) akan makan duluan baru bersalaman dengan pengantin ketika akan pulang. Hal ini disebabkan karena dari pada ketika mau bersalaman sudah antri tapi kemudian “diserobot” tamu VIP lalu mau makan antri lagi dan kadang sudah kehabisan...hayoo siapa yang pernah seperti itu? Perjuangan pun masih berlanjut karena kursi tanpa meja yang disediakan sangat sedikit sehingga kita harus makan dengan posisi berdiri dengan kondisi yang tidak nyaman karena banyak orang berlalu lalang. Memang sih, yang namanya “kondangan” atau hadir ke acara pernikahan tujuannya adalah untuk memberikan doa restu sekaligus sebagai ajang silaturahmi dengan saudara ataupun teman-teman yang mungkin sudah lama tidak bertemu. Saya hanya memberikan gambaran bahwa antara VIP dan golongan biasa memiliki perbedaan.

Pada umumnya, keistimewaan VIP dimiliki oleh orang-orang dengan jabatan tertentu sehingga mereka mendapatkan fasilitas yang berbeda juga. Contoh yang paling dekat adalah kehadiran Raja Salman dari Saudi Arabia (benar kan tulisannya hehehehehe). Sebagai seorang Raja, beliau mendapatkan pengawalan dan penjagaan yang ketat. Tempat menginap dan makanan yang dihidangkan pun tidak boleh sembarangan, ada tim khusus yang mengawasi dari awal hingga akhir, hal ini bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga dengan Presiden kita bapak Joko Widodo, meskipun beliau tidak terlalu ketat dan sering membuat paspanpres (pasukan pengamanan presiden) kocar-kacir namun tetap saja beliau memiliki tim khusus selama berada didalam maupun diluar ruangan.

Selain jabatan, ada juga keistimewaan yang bisa diperoleh dengan menggunakan uang, sebut saja fasilitas pesawat. Apabila anda pernah membeli tiket kelas bisnis garuda akan tahu bedanya dengan yang kelas ekonomi karena sesuai dengan harga tiketnya, antara lain :
1. Jalur khusus check in untuk kelas bisnis. Sama seperti jalur khusus di pesta pernikahan, jalur khusus check in memberikan kemudahan bagi pemegang tiket kelas bisnis untuk tidak perlu antri lagi ketika akan check in. Sekalipun antri, tidak akan sepanjang atau selama seperti antrian kelas ekonomi karena memang orang yang duduk dikelas bisnis sedikit jumlahnya.

2. Fasilitas lounge atau ruang khusus untuk menunggu. Ditempat ini, disediakan makanan kecil dan minuman ringan, tetapi ada juga makanan besar seperti nasi, sayur dan lauk pauk plus jus buah. Selain itu, tempatnya juga nyaman dan ada beberapa tempat duduk berupa sofa.

3. Jalur khusus boarding. Sama halnya dengan jalur check in, pemegang tiket bisnis memiliki jalur tersendiri untuk masuk pesawat dan tidak perlu mengantri panjang dan mereka diprioritaskan untuk masuk pesawat terlebih dahulu. Mereka juga disediakan mobil khusus apabila tidak tersedia garbarata, berbeda dengan kelas ekonomi yang harus berdesakan dibis.

4. Kursi yang nyaman di pesawat. Yup...kursi kelas bisnis lebih lebar dan nyaman dibandingkan dengan kursi kelas ekonomi. Selain itu dapat bantal juga hehehehehe.

5. Untuk masalah makanan mungkin hampir sama saja dengan kelas ekonomi, hanya saja pilihannya lebih banyak. Namun, gelas untuk minuman panas yang dipergunakan adalah cangkir...bukan gelas karton seperti gelas McD atau KFC.

6. Toilet di pesawat. Kelas bisnis disediakan toilet khusus dibagian depan pesawat dan lagi-lagi tidak perlu mengantri. Meskipun kita duduk dikelas ekonomi tepat dibelakang kelas bisnis, jangan harap boleh menggunakan toilet tersebut...kita tetap harus melewati lorong panjang dipesawat untuk menuju toilet dibagian belakang pesawat.

7. Handuk hangat dan wangi untuk lap muka. Pernah sekali saya mendapatkan kesempatan duduk dikelas bisnis pada saat akan ke Manokwari, Provinsi Papua Barat. Dari makassar ke sorong berangkat sekitar jam4.30 WITA dan sampai sorong matahari sudah terbit karena memang beda 1 jam. Dari makassar saya sempat tertidur dan ketika bangun saya diberikan handuk oleh pramugari untuk melap muka saya yang mungkin ada ilernya hehehehehe.

8. Prioritas turun terlebih dahulu. Ketika sudah landing, pramugari akan langsung menutup gorden yang ada diantara kelas bisnis dan ekonomi, tujuannya adalah supaya kelas ekonomi tidak menyerobot keluar pesawat sebelum kelas bisnis turun terlebih dahulu. Setelah pramugari memastikan penumpang bisnis sudah turun, barulah kelas ekonomi dipersilahkan untuk lewat.

9. Jalur khusus bagasi. Bahkan untuk bagasi bagi kelas bisnis pun ada tempat atau bagiannya sendiri.

Hal-hal yang saya sebutkan diatas mungkin baru sebagian keistimewaan yang didapatkan oleh penumpang kelas bisnis namun untuk mendapatkan fasilitas dan keistimewaan tersebut, mereka harus merogoh kantong yang tidak sedikit pula. Harga tiket kelas bisnis bisa jadi 2X lipat harga tiket kelas ekonomi tertinggi atau kelas yengki. Seperti ibu saya bilang “rego ngowo rupo” kira-kira artinya harga sesuatu (baik barang atau jasa) sesuai dengan kualitasnya.

Selain pesawat, fasilitas lain yang bisa diperoleh dengan uang adalah penginapan atau hotel. Dari sebutannya saja ada hotel melati, bintang 1 hingga 5 karena mereka memiliki kriteria tertentu dari segi jumlah kamar ataupun fasilitas yang disediakan. Hotel bintang-bintang tersebut pun masih memiliki kelas tersendiri didalamnya, pada umumnya dibedakan berdasarkan kelas kamar seperti standar, superior, deluxe, excecutive, suite dan lain-lain tergantung hotelnya.

Kamar dengan kelas berbeda akan berbeda juga harganya. Berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami, kamar dengan kelas mahal memiliki ruangan lebih luas dan ada ruang tamunya yang dilengkapi sofa untuk menonton TV serta meja makan. Kamar mandi dilengkapi bathup, kasurnya berukuran sangat besar kalau tidak salah istilahnya king size. Biasanya kita juga akan mendapatkan koran. Mungkin ini belum seberapa bila dibandingkan dengan kamar yang kemarin digunakan oleh Raja Salman hehehehehe.

Demikian sedikit gambaran perbedaan antara “kelas VIP dengan kelas biasa” yang bisa saya sajikan pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

 

Komentar

Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar