SEANDAINYA MALAM TAHUN BARU TANPA SUARA TEROMPET DAN PETASAN

Cetak

Setelah 36 tahun hidup di dunia ini, akhirnya saya memiliki keinginan membuat tulisan tentang tahun baru. Yup...Kita akan memasuki tahun baru 2017 dan meninggalkan tahun 2016. Seperti biasa, banyak event atau kegiatan yang ditawarkan tempat hiburan, wisata ataupun pusat perbelanjaan. Selain diskon, beberapa pusat perbelanjaan atau mall mengadakan acara dengan mengundang artis untuk menghibur pengunjung yang datang serta menyalakan kembang api tepat pukul 00.00 pada saat pergantian tahun. Beberapa hari atau bahkan beberapa minggu sebelum akhir tahun pun sudah banyak penjual terompet, petasan dan kembang api yang bermunculan di pinggir jalan. Selain mereka, menjelang malam tahun baru dapat kita lihat banyak penjual ayam, ikan dan jagung menjajakan dagangannya di pinggir jalan...bisa dibilang mereka merupakan pedagangan musiman.

Banyak cara yang dilakukan orang untuk merayakan malam pergantian tahun...ada yang senang keramaian dan berkumpul di pusat-pusat hiburan untuk melihat kembang api dengan berbagai bentuk dan warna namun ada juga yang malas bepergian karena biasanya beberapa jalan menjadi macet sehingga memilih berkumpul dengan keluarga atau teman dengan melakukan kegiatan bakar-bakaran hehehehehe tetapi bukan bakar rumah ya, maksudnya bakar ayam, ikan ataupun jagung karena itulah banyak bermunculan pedagang musiman.

Bagaimana dengan saya...apa yang biasa saya lakukan pada saat malam pergantian tahun?

 

 

Meskipun tidak ada yang bertanya ataupun ingin tahu apa yang saya lakukan pada saat malam tahun baru namun akan tetap saya jawab dan ceritakan hehehehehe sebenarnya jawaban saya simple saja, yang saya lakukan setiap malam tahun baru adalah TIDUR dan itulah alasan mengapa saya membuat tulisan dengan judul SEANDAINYA MALAM TAHUN BARU TANPA SUARA TEROMPET DAN PETASAN karena suara tersebut pasti akan terdengar pada saat tengah malam, bahkan ikut dibunyikan pada saat wilayah Timur dan Tengah Indonesia sudah berganti tahun dan itu sangat menganggu tidur saya hehehehe...

Bagi saya, suara petasan sangat tidak enak terdengar karena mengagetkan dan memekakkan telinga, sedangkan terompet dengan segala macam jenis suaranya sangatlah berisik. Mungkin bagi kebanyakan orang, saya memang aneh tapi itulah pilihan saya ketika menyambut tahun baru dan selama itu tidak menganggu atau merugikan orang lain (mungkin) akan tetap saya lakukan sampai kapan pun, kebetulan Endry juga sudah saya biasakan tetap dirumah ketika malam bergantian tahun.

Biasanya ditempat saya bekerja, jika tanggal 31 Desember jatuh pada hari kerja maka saya tidak pernah bisa pulang lebih awal karena harus menyiapkan berbagai macam laporan akhir tahun padahal diruangan lain sudah tutup pintu dan mematikan lampu sejak sehabis Ashar. Apabila pulang malam (maksimal jam 7 – 8 malam), biasanya saya akan berpapasan dengan orang-orang yang akan bepergian ke pusat-pusat keramaian tempat merayakan malam tahun baru dan kalau sedang tidak beruntung, bisa terjebak macet.

Kebetulan tahun ini tanggal 31 Desember jatuh pada hari Sabtu dan tanggal 1 Januari 2017 jatuh pada hari Minggu tetapi tetap saja kemarin saya pulang malam. Yang membuat saya heran adalah mengapa hari Senin, tanggal 2 Januari 2017 di liburkan dan dihitung sebagai cuti bersama padahal kalaupun kita merayakan malam tahun baru dan begadang pada sabtu malam hingga minggu pagi maka kita masih bisa beristirahat seharian pada hari minggu tetapi mengapa Senin harus libur? Itulah anehnya saya...kalau orang lain senang mendapatkan libur, saya justru bertanya kenapa harus libur hehehehehe tapi saya bukan tipe workaholic kok hanya saja ada pekerjaan yang belum selesai saya kerjakan.

Kembali lagi pada masalah suara terompet dan petasan, disatu sisi tradisi meniup terompet dan menyalakan petasan ataupun kembang api pada saat malam tahun baru membawa berkah tersendiri bagi produsen dan penjual karena barang dagangannya lebih laku terjual dibandingkan hari biasa. Banyaknya permintaan akan barang-barang tersebut menyebabkan keuntungan yang diperoleh produsen dan pedagang lebih besar atau banyak. Selain balik modal, keuntungan yang diperoleh bisa untuk disimpan sebagai tabungan ataupun membeli kebutuhan hidup. Misalkan saja, keuntungan dari menjual terompet atau petasan Rp. 500,- perbuah, apabila kita bisa menjual 100 buah terompet atau petasan pada saat menjelang tahun baru maka diperoleh keuntungan Rp. 50.000,-. Angka tersebut mungkin terlihat kecil namun lumayan untuk tabungan dari pada tidak untung sama sekali karena akan sangat sulit menjual terompet, petasan ataupun kembang api apabila hujan terus.

Sisi positif lain adanya pesta kembang api yang dilakukan diberbagai tempat juga bisa menjadi hiburan murah meriah bagi masyarakat menengah ke bawah karena biasanya terbuka untuk umum. Acara tersebut juga membawa berkah bagi pedagang makanan dan minuman disekitar tempat tersebut. Pengunjung yang berdatangan untuk menyaksikan pesta kembang api (dan biasanya juga ada petasan) serta membunyikan terompet secara bersamaan sudah pasti membutuhkan makanan dan minuman selama menunggu dan menyaksikan acara tersebut. Selain pedagang, profesi yang mendapatkan keuntungan dari adanya kerumunan tersebut adalah pencopet sehingga kita harus waspada dan hati-hati ketika merayakan malam tahun baru di tempat yang ramai.

Namun di sisi lain, menurut saya menyalakan petasan selain suaranya menganggu juga merupakan hal mubazir karena seperti membuang atau membakar uang untuk kepuasan sesaat. Selain itu, petasan yang diperbolehkan untuk dinyalakan juga memiliki aturan atau memenuhi syarat (kalau tidak salah) tidak melebihi ukuran 2 inchi, sedangkan petasan yang berukuran lebih dari 2 inchi harus mendapatkan ijin dari pihak berwajib baik bagi pedagang maupun pembeli. Hanya saja, adakalanya masih ada pedagang yang menjual petasan berukuran lebih dari 2 inchi dan dijual bebas tanpa melihat usia si pembeli sehingga anak-anak pun kadang bisa membeli jenis petasan yang seharusnya tidak diperjual belikan.

Ini berkaitan dengan sisi negatif lainnya yaitu apabila anak-anak tidak diawasi dan diarahkan oleh orang tua ketika menyalakan petasan maka mereka akan menyalakan petasan tersebut disembarangan tempat bahkan sengaja dinyalakan untuk mengagetkan orang lain. Hal ekstrim yang bisa saja terjadi dan mungkin sudah banyak terjadi adalah adanya “kecelakaan” pada saat menyalakan petasan sehingga menyebabkan cacat anggota tubuh. Meskipun demikian, tetap saja banyak orang tidak takut menyalakan petasan.

Akhir kata (karena sudah mengantuk dan tidak tahu mau menulis apa lagi), apapun pilihan anda dalam mengisi detik-detik pergantian tahun menjadi pilihan dan hak anda sepenuhnya, hanya saja sebaiknya dilakukan dengan bijak dan bermanfaat. Sedangkan pilihan saya adalah tidur...selamat tidur

 

 

Komentar

Tampilkan/Sembunyikan Form Komentar